Indo News - Puluhan ribu warga Bahrain turun ke jalan-jalan di ibukota Manama menolak reformasi yang diusulkan rezim al-Khalifa.
Pada Jumat (19/9/14), para demonstran pro demokrasi mengatakan reformasi itu tidak mewakili keinginan rakyat dan oposisi di sana.
Pada hari yang sama, pemimpin gerakan oposisi terbesar Bahrain, Masyarakat Islam Nasional al-Wefaq mengatakan bahwa usulan baru itu "mengabaikan tuntutan sah rakyat," dan "posisi pejabat tetap tidak tersentuh."
"Keluarga kerajaan mempertahankan semua kekuatan eksekutif, legislatif dan yudikatif, keamanan, informasi dan kekayaan," kata Sheikh Ali Salman sambil menambahkan, "Solusinya, penguasa harus menyerahkan monopoli semua kekuasaan ini dan menghormati kehendak rakyat."
Sejak pertengahan Februari 2011, ribuan demonstran pro demokrasi mengadakan berbagai aksi demo di jalan-jalan Bahrain menyeru keluarga kerajaan al-Khalifa untuk mundur.
Pada 14 Maret 2011, pasukan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menginvasi negara itu untuk membantu pemerintah Bahrain dalam menindak keras para demonstran damai. [IT/r]






Post a Comment