SenmoNews Update
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
1:03 PM
Ganti Rugi Lapindo Tunggu Pailit Minarak
Written By Andrew T Panjaitan.ST on Wednesday, September 24, 2014 | 1:03 PM
Pemblokiran area yang terkena lumpur Lapindo oleh warga Sidoarjo diyakini bakal segera selesai. Sebab, rapat antara Menteri Pekerjaan Umum, BPLS, Gubernur Jawa Timur dan PT Minarak Lapindo Jaya, memutuskan sisa pembayaran ganti rugi terhadap warga yang lahannya terkena lumpur Lapindo, akan menggunakan anggaran negara.
Keputusan tersebut, bakal disosialisasikan oleh Bupati Sidoarjo. Saat ini, masyarakat membutuhkan kepastian ganti rugi. "Begitu hasil ini, pak bupati akan mengumumkan ke warga. Nanti diinformasikan ke oleh bupati," kata Gubernur Jawa Timur, Soekarwo di Jakarta, Rabu (24/9).
Kondisi perbaikan tanggul sendiri, menurut dia hanya tinggal sejengkal. Sehingga, kalau tidak segera diperbaiki rawan kebocoran dan mengakibatkan semburan lumpur kembali melebar. "Nanti kalau hujan pasti bocor. Kalau belum ada hujan tidak apa-apa," kata dia.
Ganti rugi lahan warga tersebut, ditetapkan seharga Rp 1 juta per meter dari harga aslinya Rp 60.000. Nantinya, pemerintah akan mendapatkan hak milik atas pembelian tanah warga sekitar 600 hektare tersebut sebesar 20 persen.
Proses pembayaran ganti rugi lahan warga yang terkena dampak membutuhkan waktu lama. Sebab, harus melalui keputusan dari Presiden SBY untuk memasukkan ke dalam APBN tahun anggaran 2015. Soekarwo yakin jika persoalan ini diambil alih pemerintah, maka masalah akan terselesaikan. "Sebenarnya ada proses panjang pailit. Proses panjang sekali," katanya.
Sumber: Merdeka.com
Labels:
Ekonomi
6:39 AM
Ekonomi Global Mengalami Tekanan Yang berkelanjutan
Written By Andrew T Panjaitan.ST on Sunday, September 21, 2014 | 6:39 AM
![]() |
| Ilustrasi: Bendera Negara G20 |
Jakarta **Indo News** Menteri Keuangan dan Gubernur Bank yang tergabung didalam G20 mengadakan Pertemuan di Cairns, Australia.
Menteri keuangan dan Para Gubernur Bank yang tergabung didalam G20 menyatakan bahwa saat ini dalam kajian perspektif ekonomi bahwa prospek ekonomi dunia saat ini mengalami arah yang negatif. demikian yang dikutip Bloimberg (Minggu 21/9/2014). Saat ini menurut catatan dalam pertemuan G20 melihat bahwa Pertumbuhan Ekonomi Dunia tidak merata dan ini dapat dilihat dari beberapa negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi tapi banyak juga yang negara-negara yang mengalami pelemahan ekonomi.
Semenjak pertemuan terakhir negara-negara G20 pada bulan Februari 2014 yang lalu di sydney, Australia. Ekonomi Global dalam perbaikannya mulai mengalami penurunan.
Dilihat dari sisi perkembangan Ekonomi, seperti negara Jepang, kebangkitan Ekonomi di negara tersebut mengalami surut disebabkan adanya kenaikan pajak penjualan pada April lalu. Sedangkan untuk Pertumbuhan Ekonomi negara China sebesar 7,5% sulit untuk dicapai dan ini mempengaruhi penurunan Index saham hanseng dan Nikkei pada pasaran hari ini.
Ekonom Amerika dan Canada mengatakan bahwa beberapa negara perlu mengambil langkah cepat untuk mengangkat pertumbuhan Ekonomi. Oleh karena itu, beberapa negara di eropa sudah mulai mempertimbangkan untuk membuat kebijakan fiskal tambahan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menteri keuangan Amerika Serikat, Jacob J.Lew menyatakan bahwa ekonomi global mengalami tekanan yang berkelanjutan terutama untuk beberapa negara di Eropa termasuk negara Jepang.
Labels:
Ekonomi
10:55 AM
Me-refinancing utang Perseroan Rp.1,2 Trilyun PT.Holcim Menjajaki Pinjaman Rp.2 Trilyun
Written By Andrew T Panjaitan.ST on Friday, September 19, 2014 | 10:55 AM
![]() |
| Holcim Indonesia Logo |
JAKARTA -- Indo News -- PT Holcim Indonesia Tbk tengah menjajaki pinjaman senilai Rp. 2 triliun yang rencananya akan difinalisasi pada November 2014.
Direktur Holcim Indonesia Kent Carson mengatakan pinjaman senilai Rp.2 triliun rencananya akan digunakan untuk me-refinancing utang perseroan senilai Rp1,2 triliiun sekaligus untuk menambah belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp.800 miliar.
Saat ini, emiten dengan kode saham SMCB itu tengah melakukan penjajakan dengan perbankan lokal dan asing.
“Belum bisa dikatakan, tetapi dengan lokal dan asing,” kata Kent dalam konferensi pers di Investor Summit, Kamis (18/9/2014).
Sebelumnya, di luar dari penjajakan pinjaman senilai Rp2 triliun, perseroan sudah merealisasikan pinjaman senilai US$98 juta dari export credit agency Jerman yang terdiri dari US$3,21 juta dan 71,76 juta euro.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, liabilitas jangka pendek perseroan mencapai Rp4,4 triliun atau meningkat dari periode sepanjang 2013 yang senilai Rp3,2 triliun. Begitu juga liabilitas jangka panjang yang naik menjadi Rp3,3 triliun dari nilai Rp2,8 triliun sepanjang 2013 lalu.
“Kenaikan utang jangka panjang terkait ekspansi Tuban,” papar Kent dalam paparan publik.
Pinjaman jangka panjang mengalami peningkatan seiring dengan selesainya pembangunan Pabrik Tuban I pada Juni 2014. Adapun perseroan terus melanjutkan pembangunan pabrik Tuban II yang akan beroperasi pada 2015.
Nilai investasi Pabrik Tuban I senilai US$500 juta dan Pabrik Tuban II senilai US$315 juta. Menurut Patrick Walser, Direktur Holcim Indonesia mengatakan dengan mulai beroperasinya Pabrik Tuban I, perseroan akan mampu mempesingkat waktu pengiriman dengan biaya yang lebih rendah unutk memenuhi kebutuhan pasar di Jawa Timur dan luar Pulau Jawa termasuk Kalimantan dan Sumatra.
Berdasarkan data Holcim Indonesia, sebelum beroperasinya Pabrik Tuban I, produksi perseroan tercatat 1,8 juta ton. Setelah Pabrik Tuban I beroperasi, produksi semen perseroan melesat hingga 11,6 juta ton per tahun. Nantinya, setelah Pabrik Tuban II beroperasi, produksi perseroan akan menjadi 13,2 juta ton per tahun. (jaith)
Labels:
Ekonomi
9:58 PM
Kadin Mengusulkan nama Menteri untuk Kabinet Jokowi-JK
Written By Andrew T Panjaitan.ST on Wednesday, September 17, 2014 | 9:58 PM
![]() |
| Presiden Terpilih Jokowi-JK di Rumah Transisi |
JAKARTA, Indo News - Presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla sedang menseleksi nama orang yang akan di jadikan menteri untuk membantu pemerintahan mereka lima tahun ke depan. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap, pasangan presiden dan wakil presiden terpilih tersebut bisa memasukkan nama Rini Soemarno dan Sri Mulyani dalam daftar nama calon menteri keuangan mereka.
Ketua Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan, ke dua figur tersebut memiliki syarat yang sempurna untuk memimpin Kementerian Keuangan. "Mereka pandai dalam mengatur kebijakan fiskal dan moneter," katanya kepada KONTAN, Rabu (17/9/2014).
Untuk pos Kementerian BUMN, Natsir mengusulkan tiga nama, yaitu RJ Lino yang saat ini menjadi Dirut Pelindo II. Sebab, Lino dinilai telah berhasil mengembangkan BUMN tersebut dengan baik selama dia menjadi dirut.
Di pos ke tiga, Kementerian ESDM, Natsir mengusulkan dua nama. Pertama, Sukhyar yang saat ini menjabat sebagai Dirjen Mineral dan Batubara. Sedangkan nama kedua, Suryo Bambang Sulisto, yang saat ini menjadi ketua Kadin.
Natsir bilang, ke dua nama tersebut mumpuni di bidang tersebut. "Di Perindustrian, kami usul Pak Rahmat Gobel atau Benny Soetrisno, mereka cukup mampu untuk memajukan industri kita," katanya.
Adapun, di pos Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Natsir berharap agar Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, dan James Riyadi juga bisa dipertimbangkan oleh Jokowi- JK.
Natsir berharap, Jokowi- JK bisa mempertimbangkan nama- nama tersebut untuk bisa menduduki kementerian di bidang ekonomi. Dia yakin dengan menunjuk orang profesional tersebut di kementerian bidang ekonomi, ekonomi Indonesia akan bisa tumbuh dengan baik. (Agus Triyono)
Sumber: Kompas
Labels:
Ekonomi








